Perkembangan layanan kesehatan digital di Indonesia terus bergerak menuju ekosistem yang semakin terhubung. Salah satu bagian penting dari transformasi tersebut adalah SATUSEHAT, platform yang dikembangkan Kementerian Kesehatan RI untuk mendukung pertukaran dan interoperabilitas data kesehatan antar sistem.
Melalui SATUSEHAT, data kesehatan tidak lagi hanya dipandang sebagai data yang tersimpan di masing-masing fasilitas kesehatan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem yang dapat dipertukarkan secara terstandar.
Pada 1 September 2026, Kementerian Kesehatan juga meluncurkan SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik (RME) sebagai bagian dari upaya mengintegrasikan data rekam medis pasien secara nasional.
Apa Itu SATUSEHAT?
SATUSEHAT adalah ekosistem pertukaran data kesehatan atau Health Information Exchange (HIE) yang menghubungkan sistem informasi dan aplikasi dari berbagai anggota ekosistem kesehatan digital Indonesia, termasuk fasilitas pelayanan kesehatan, regulator, penjamin, dan penyedia layanan digital.
Sederhananya, SATUSEHAT dapat dipahami sebagai salah satu fondasi untuk membuat berbagai sistem kesehatan saling berkomunikasi menggunakan standar yang sama.
Tujuannya bukan sekadar memindahkan data dari satu sistem ke sistem lain, tetapi memungkinkan informasi kesehatan dipertukarkan secara lebih terstruktur dan dapat dipahami oleh sistem yang berbeda.
Kenapa SATUSEHAT Dibutuhkan?
Sebelum adanya ekosistem interoperabilitas, fasilitas kesehatan dapat menggunakan sistem informasi yang berbeda-beda. Format data, kode pemeriksaan, struktur informasi, hingga cara pertukaran datanya juga dapat berbeda.
Kondisi tersebut membuat pertukaran data menjadi lebih sulit.
SATUSEHAT menyediakan mekanisme dan standar yang dapat digunakan oleh berbagai sistem untuk berkomunikasi. Salah satu standar utama yang digunakan adalah HL7 FHIR, yaitu standar internasional untuk pertukaran informasi kesehatan melalui API.
Dengan pendekatan tersebut, sistem yang berbeda dapat memiliki bahasa pertukaran data yang lebih seragam.
Apakah Laboratorium Wajib Terintegrasi dengan SATUSEHAT?
Ya. Laboratorium kesehatan termasuk fasilitas pelayanan kesehatan yang wajib terintegrasi dengan SATUSEHAT Platform.
Dokumentasi resmi SATUSEHAT yang diperbarui pada Desember 2025 mencantumkan laboratorium kesehatan sebagai salah satu fasyankes yang wajib terintegrasi, bersama antara lain praktik mandiri, puskesmas, klinik, rumah sakit, dan apotek.
Artinya, bagi laboratorium, pembahasan mengenai SATUSEHAT bukan lagi sekadar tentang tren teknologi.
Laboratorium perlu mulai memperhatikan apakah sistem yang digunakan saat ini memiliki kemampuan untuk mendukung kebutuhan integrasi dan interoperabilitas data kesehatan.
Data Laboratorium dalam Ekosistem SATUSEHAT
Laboratorium memiliki posisi penting karena menghasilkan berbagai informasi medis yang menjadi bagian dari perjalanan pelayanan pasien.
Dalam dokumentasi SATUSEHAT, pertukaran data laboratorium menggunakan standar HL7 FHIR. Untuk data hasil pemeriksaan laboratorium, SATUSEHAT juga menggunakan LOINC (Logical Observation Identifiers Names and Codes) sebagai salah satu terminologi untuk membantu standardisasi pemeriksaan.
Ini penting karena satu pemeriksaan dapat memiliki nama atau kode yang berbeda di masing-masing sistem laboratorium.
Sebagai contoh sederhana, satu jenis pemeriksaan bisa saja memiliki penamaan internal yang berbeda antara Laboratorium A dan Laboratorium B. Jika setiap sistem menggunakan istilah dan kode sendiri, data akan lebih sulit dipertukarkan dan dipahami oleh sistem lain.
Karena itu, interoperabilitas bukan hanya persoalan “bisa kirim data atau tidak”, tetapi juga apakah data yang dikirim memiliki struktur, kode, dan terminologi yang sesuai.
HL7 FHIR, Apa Hubungannya dengan Laboratorium?
HL7 FHIR merupakan standar yang digunakan SATUSEHAT untuk model data dan API pertukaran informasi kesehatan. FHIR menyediakan struktur yang disebut resources untuk merepresentasikan berbagai informasi kesehatan.
Dalam konteks laboratorium, integrasi dapat melibatkan berbagai informasi seperti:
- identitas pasien,
- permintaan pemeriksaan,
- spesimen,
- pemeriksaan laboratorium,
- hasil pemeriksaan,
- laporan hasil pemeriksaan,
- serta informasi lain sesuai kebutuhan use case.
Dokumentasi SATUSEHAT untuk rujukan spesimen, misalnya, mencakup proses permintaan pemeriksaan laboratorium, data spesimen, hingga pengiriman laporan hasil pemeriksaan menggunakan resource seperti ServiceRequest, Specimen, Task, dan DiagnosticReport.
Jadi, sistem laboratorium tidak cukup hanya memiliki database hasil pemeriksaan. Sistem juga perlu mampu mengelola data dengan struktur yang dapat dipetakan ke standar interoperabilitas yang digunakan.
Tantangan Integrasi SATUSEHAT bagi Laboratorium
Integrasi dengan ekosistem kesehatan nasional tentu bukan hanya persoalan membuat satu tombol “Kirim ke SATUSEHAT”.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan laboratorium.
1. Struktur Data
Data pasien, pemeriksaan, spesimen, hasil, waktu pemeriksaan, hingga informasi fasilitas harus tersimpan dengan struktur yang jelas.
2. Standardisasi Pemeriksaan
Nama dan kode pemeriksaan internal perlu dapat dipetakan dengan terminologi yang digunakan dalam ekosistem SATUSEHAT.
Untuk pemeriksaan laboratorium, penggunaan terminologi seperti LOINC menjadi salah satu bagian penting dalam proses standardisasi data.
3. Kemampuan API dan Integrasi
Sistem laboratorium perlu memiliki kemampuan teknis untuk berkomunikasi melalui mekanisme yang digunakan SATUSEHAT.
Artinya, sistem harus mampu menangani proses seperti autentikasi, pengiriman data, respons dari API, validasi, serta penanganan apabila terdapat data yang ditolak atau perlu diperbaiki.
4. Kualitas Data
Integrasi tidak akan berjalan optimal jika data sumbernya sendiri tidak rapi.
Kesalahan identitas pasien, kode pemeriksaan yang tidak konsisten, data yang tidak lengkap, atau struktur database yang terlalu bergantung pada format internal dapat menjadi hambatan ketika data harus dipetakan ke standar interoperabilitas.
5. Kesiapan Sistem RME/LIS
Fasyankes yang menggunakan sistem dari vendor perlu memastikan sistem tersebut mendukung kebutuhan integrasi SATUSEHAT.
SATUSEHAT juga menyediakan mekanisme bagi fasyankes yang menggunakan sistem dari mitra/vendor maupun sistem RME yang dikembangkan secara mandiri. Untuk memperoleh akses API Production, terdapat proses pemutakhiran data sistem RME dan ketentuan terkait verifikasi sistem.
SATUSEHAT Bukan Berarti Semua Data Harus Disimpan di Satu Database
Ini juga penting untuk dipahami.
SATUSEHAT merupakan ekosistem pertukaran dan interoperabilitas data, bukan sekadar konsep “semua database fasilitas kesehatan digabung menjadi satu database”.
Masing-masing sistem informasi tetap memiliki fungsi dan pengelolaan sendiri. Yang menjadi penting adalah kemampuan sistem tersebut untuk berkomunikasi dan bertukar data menggunakan standar yang telah ditentukan.
Karena itu, sebuah LIS tetap memiliki peran penting dalam operasional laboratorium, sementara data tertentu dapat diintegrasikan ke dalam ekosistem SATUSEHAT sesuai kebutuhan dan use case yang berlaku.
Apa yang Harus Disiapkan Laboratorium?
Laboratorium yang ingin mempersiapkan diri dapat mulai dari hal-hal mendasar:
- Rapikan master data pemeriksaan.
- Pastikan identitas pasien tersimpan secara konsisten.
- Pastikan data pemeriksaan dan hasil memiliki struktur yang jelas.
- Evaluasi kemampuan LIS dalam integrasi API.
- Siapkan pemetaan kode dan terminologi pemeriksaan.
- Perhatikan proses validasi dan kualitas data sebelum dikirim.
- Pastikan sistem memiliki mekanisme pencatatan aktivitas dan perubahan data.
- Pastikan aspek keamanan dan kerahasiaan data pasien diperhatikan.
Persiapan tersebut bukan hanya berguna untuk SATUSEHAT, tetapi juga membuat sistem laboratorium lebih siap menghadapi kebutuhan interoperabilitas dan digitalisasi kesehatan di masa depan.
SATUSEHAT dan Masa Depan Laboratorium
Arah transformasi kesehatan digital Indonesia semakin jelas: sistem kesehatan perlu dapat saling terhubung.
Bagi laboratorium, perubahan ini membuat kualitas sistem informasi menjadi semakin penting. LIS tidak lagi hanya berfungsi untuk mencatat hasil pemeriksaan dan mencetak laporan, tetapi juga perlu dipersiapkan untuk menjadi bagian dari ekosistem data kesehatan yang lebih luas.
Interoperabilitas juga tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan kesiapan data, proses bisnis, sistem, infrastruktur, terminologi, serta kemampuan integrasi.
Karena itu, semakin awal laboratorium mempersiapkan fondasi sistemnya, semakin mudah pula melakukan penyesuaian ketika kebutuhan integrasi berkembang.
Kesimpulan
SATUSEHAT merupakan bagian penting dari ekosistem transformasi digital kesehatan Indonesia. Laboratorium kesehatan termasuk fasyankes yang wajib terintegrasi dengan SATUSEHAT, sehingga kesiapan sistem informasi laboratorium menjadi semakin penting.
Penggunaan standar seperti HL7 FHIR dan terminologi laboratorium seperti LOINC menunjukkan bahwa interoperabilitas membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengirim data. Data harus memiliki struktur dan standar yang dapat dipahami oleh sistem lain.
Bagi laboratorium, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai mengevaluasi kualitas data, struktur sistem, master pemeriksaan, serta kemampuan integrasi yang dimiliki.
Persiapkan sistem laboratorium Anda menuju ekosistem kesehatan digital nasional.
SisLab terus mengikuti perkembangan standar dan kebutuhan integrasi kesehatan di Indonesia, agar sistem laboratorium dapat terus berkembang mengikuti perubahan teknologi dan ekosistem kesehatan.
Urus Lab Anda, Biar SisLab Urus Sistemnya.
