Ketika membahas interoperabilitas data kesehatan dan SATUSEHAT, kita sering menemukan istilah HL7 FHIR.

Bagi orang yang sehari-hari bekerja di laboratorium, istilah ini mungkin terdengar sangat teknis.

Sebenarnya, konsep dasarnya cukup sederhana.

Jika sebuah laboratorium memiliki LIS (Laboratory Information System) yang menyimpan data pasien, pemeriksaan, spesimen, dan hasil laboratorium, maka HL7 FHIR merupakan salah satu standar yang dapat digunakan agar data tersebut dapat dipertukarkan dengan sistem kesehatan lainnya menggunakan struktur dan mekanisme yang terstandar.

SATUSEHAT sendiri menggunakan HL7 FHIR dalam penerapan model data dan API untuk pertukaran informasi kesehatan.

Lalu, apa sebenarnya HL7 FHIR dan apa hubungannya dengan LIS?

Apa Itu HL7 FHIR?

FHIR merupakan singkatan dari Fast Healthcare Interoperability Resources.

FHIR adalah standar internasional yang dikembangkan oleh HL7 International untuk pertukaran informasi kesehatan.

SATUSEHAT menjelaskan FHIR sebagai standar yang menetapkan format data beserta elemen-elemennya yang disebut resources, sekaligus menyediakan standar API untuk pertukaran informasi kesehatan.

Sederhananya:

HL7 FHIR adalah salah satu “bahasa” standar yang membantu sistem kesehatan berbeda saling bertukar data.

Misalnya ada:

  • sistem rumah sakit,
  • LIS laboratorium,
  • sistem klinik,
  • sistem radiologi,
  • aplikasi kesehatan,
  • dan platform kesehatan nasional.

Masing-masing sistem dapat memiliki struktur database dan teknologi yang berbeda.

FHIR membantu menentukan bagaimana informasi kesehatan tersebut direpresentasikan dan dipertukarkan sehingga sistem yang berbeda dapat berkomunikasi dengan cara yang lebih terstandar.

Hal ini berkaitan langsung dengan konsep interoperabilitas data kesehatan.

Kenapa Tidak Cukup Mengirim Data dalam Bentuk JSON atau Excel?

Ini pertanyaan yang sering muncul ketika membahas integrasi.

Sebuah sistem sebenarnya bisa saja mengirim data menggunakan JSON, CSV, XML, atau format lainnya.

Tetapi format file saja tidak menjamin bahwa dua sistem memahami data dengan cara yang sama.

Misalnya sebuah LIS mengirim:

patient_id = 12345
test = HGB
result = 14.2
unit = g/dL

Sistem penerima mungkin bisa membaca data tersebut.

Namun muncul pertanyaan:

  • 12345 itu ID pasien yang mana?
  • HGB merupakan pemeriksaan apa?
  • apakah 14.2 merupakan hasil final?
  • siapa yang melakukan pemeriksaan?
  • kapan pemeriksaan dilakukan?
  • spesimen apa yang digunakan?
  • pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari permintaan apa?

Di sinilah standardisasi menjadi penting.

FHIR tidak hanya membahas bagaimana data dikirim, tetapi juga menyediakan struktur dan hubungan antar informasi melalui resources.

Apa Itu FHIR Resource?

Dalam FHIR, informasi kesehatan direpresentasikan menggunakan objek yang disebut Resource.

Setiap resource memiliki fungsi tertentu.

Dalam konteks laboratorium, beberapa resource yang penting antara lain:

  • Patient untuk informasi pasien
  • Organization untuk fasilitas atau organisasi
  • Practitioner untuk tenaga kesehatan
  • Encounter untuk kunjungan
  • ServiceRequest untuk permintaan pemeriksaan
  • Specimen untuk spesimen
  • Observation untuk hasil observasi/pemeriksaan
  • DiagnosticReport untuk laporan hasil pemeriksaan

SATUSEHAT menggunakan resource-resource tersebut dalam berbagai alur interoperabilitasnya. Untuk laporan pemeriksaan laboratorium, misalnya, DiagnosticReport dapat mereferensikan Observation, Specimen, dan ServiceRequest.

Dengan kata lain, data tidak hanya dikirim sebagai satu tabel besar.

Informasi dibuat lebih terstruktur dan memiliki hubungan dengan informasi lainnya.

Contoh Sederhana Alur Laboratorium

Bayangkan seorang pasien datang ke laboratorium dan melakukan pemeriksaan darah.

Di dalam LIS, prosesnya mungkin terlihat sederhana:

Pasien → Order → Pengambilan Sampel → Pemeriksaan → Validasi → Hasil

Dalam konsep interoperabilitas berbasis FHIR, informasi tersebut dapat direpresentasikan melalui beberapa resource.

Contohnya:

Patient

↓

ServiceRequest

↓

Specimen

↓

Observation

↓

DiagnosticReport

Masing-masing resource memiliki fungsi yang berbeda.

Misalnya, ServiceRequest dapat merepresentasikan permintaan pemeriksaan, Specimen merepresentasikan spesimen yang digunakan, Observation menyimpan hasil observasi, sedangkan DiagnosticReport merepresentasikan laporan pemeriksaan.

Inilah salah satu alasan mengapa integrasi kesehatan tidak cukup hanya dengan “mengirim hasil laboratorium”.

Sistem harus mampu memahami konteks data yang dikirim.

Lalu Apa Hubungannya dengan LIS?

Di sinilah hubungan HL7 FHIR dengan LIS menjadi sangat penting.

LIS adalah sistem operasional laboratorium.

LIS digunakan untuk mengelola berbagai proses seperti:

  • pendaftaran pasien,
  • permintaan pemeriksaan,
  • pengelolaan spesimen,
  • pemeriksaan,
  • integrasi alat,
  • hasil pemeriksaan,
  • validasi hasil,
  • pencetakan laporan,
  • dan pengelolaan data laboratorium.

Sementara itu, FHIR bukan pengganti LIS.

FHIR adalah standar yang dapat digunakan oleh LIS untuk berkomunikasi dengan sistem lain.

Gambaran sederhananya:

LIS

→ mengelola data dan proses laboratorium

HL7 FHIR

→ membantu menstandarkan cara data tersebut dipertukarkan

Sistem lain / SATUSEHAT

→ menerima atau bertukar data sesuai standar dan use case yang berlaku.

Jadi, laboratorium tidak perlu mengganti LIS hanya karena menggunakan FHIR.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah LIS tersebut memiliki kemampuan untuk melakukan integrasi sesuai standar yang dibutuhkan.

Contoh: Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Misalnya laboratorium melakukan pemeriksaan hemoglobin.

Di dalam LIS mungkin terdapat:

Pasien       : Budi Santoso
Pemeriksaan  : Hemoglobin
Hasil        : 14.2
Satuan       : g/dL

Dalam sistem internal, laboratorium bisa saja menggunakan kode pemeriksaan sendiri.

Misalnya:

Kode internal : HGB01

Masalah muncul ketika data tersebut harus dipertukarkan dengan sistem lain.

Sistem lain belum tentu mengetahui bahwa:

HGB01 = Hemoglobin

Karena itu, dibutuhkan standardisasi terminologi.

Dalam ekosistem SATUSEHAT, pemeriksaan laboratorium menggunakan LOINC sebagai salah satu standar untuk penamaan dan kodifikasi pemeriksaan.

Jadi sederhananya:

FHIR = bagaimana data dipertukarkan dan distrukturkan

LOINC = bagaimana pemeriksaan laboratorium diberi kode/identitas yang terstandar

Keduanya memiliki fungsi berbeda tetapi saling melengkapi.

HL7 FHIR dan LOINC Bukan Hal yang Sama

Bagian ini penting karena keduanya sering dianggap sama.

HL7 FHIR adalah standar pertukaran informasi kesehatan.

LOINC adalah terminologi/kode untuk mengidentifikasi berbagai pengukuran dan observasi kesehatan, termasuk pemeriksaan laboratorium.

Gampangnya kita bisa membayangkan:

FHIR adalah aturan bagaimana sebuah pesan disusun dan dikirim.

LOINC adalah salah satu kamus yang membantu menjelaskan pemeriksaan apa yang dimaksud dalam pesan tersebut.

SATUSEHAT sendiri menjelaskan bahwa FHIR membutuhkan vocabulary untuk mendukung pertukaran data, dan untuk data laboratorium vocabulary yang digunakan adalah LOINC.

Kenapa Master Pemeriksaan LIS Menjadi Penting?

Dari sini kita bisa melihat bahwa persoalan integrasi sebenarnya sering dimulai dari hal yang sangat mendasar:

master data.

Laboratorium bisa memiliki ratusan bahkan ribuan pemeriksaan.

Jika setiap pemeriksaan hanya memiliki kode lokal tanpa struktur dan pemetaan yang jelas, proses integrasi akan menjadi lebih rumit.

Contohnya:

SistemPemeriksaanKode
Lab AProcalcitoninPCT001
Lab BPCT717
Lab CProcalcitonin (PCT)203
StandarProcalcitoninLOINC

Dokumentasi SATUSEHAT sendiri menjelaskan bahwa perbedaan nama dan kode pemeriksaan antar-LIS menjadi salah satu alasan diperlukan standardisasi menggunakan LOINC.

Artinya, kesiapan integrasi tidak hanya bergantung pada programmer.

Tim laboratorium juga memiliki peran penting dalam memastikan master pemeriksaan dan pemetaannya benar.

Bagaimana Data LIS Bisa Menuju SATUSEHAT?

Secara sederhana, alurnya dapat dibayangkan seperti ini:

Pasien

↓

LIS

↓

Data Laboratorium

↓

Mapping / Standardisasi

↓

FHIR Resource

↓

API

↓

SATUSEHAT

Namun implementasi sebenarnya dapat berbeda berdasarkan use case, konfigurasi sistem, dan panduan interoperabilitas yang berlaku.

SATUSEHAT menyediakan spesifikasi dan mekanisme pertukaran data menggunakan HL7 FHIR dan HTTPS REST API.

Jadi sebuah LIS yang ingin mendukung integrasi perlu memiliki kemampuan teknis untuk melakukan proses seperti:

  • autentikasi,
  • pemetaan data,
  • pembentukan resource FHIR,
  • pengiriman API,
  • membaca response,
  • menangani error,
  • melakukan retry bila diperlukan,
  • dan mencatat status proses integrasi.

Apakah Semua Data LIS Harus Diubah Menjadi FHIR?

Tidak berarti seluruh database LIS harus dibangun ulang menggunakan struktur FHIR.

Ini merupakan salah satu kesalahpahaman yang cukup umum.

LIS tetap dapat memiliki database dan struktur internal sendiri sesuai kebutuhan operasional laboratorium.

FHIR digunakan sebagai salah satu lapisan pertukaran/interoperabilitas ketika data perlu dikirim atau diterima oleh sistem lain.

Gambaran sederhananya:

DATABASE LIS
     ↓
LOGIC / MAPPING
     ↓
FHIR RESOURCE
     ↓
API
     ↓
SISTEM TUJUAN

Dengan pendekatan tersebut, database internal tidak harus identik dengan struktur FHIR.

Yang penting adalah tersedia proses pemetaan yang benar antara data internal dan standar pertukaran yang digunakan.

Bagaimana dengan Integrasi Alat Laboratorium?

Ini juga perlu dibedakan.

Integrasi alat laboratorium dan interoperabilitas menggunakan FHIR bukan hal yang sama.

Misalnya:

Analyzer

↓

Device Interface

↓

LIS

merupakan proses integrasi antara alat dan LIS.

Sedangkan:

LIS

↓

FHIR / API

↓

Sistem eksternal

merupakan proses pertukaran data antar sistem.

Jadi alurnya bisa saja:

Analyzer → LIS → FHIR/API → Sistem Eksternal

Inilah alasan mengapa pembahasan integrasi alat laboratorium dan interoperabilitas perlu dipahami sebagai dua lapisan yang berbeda tetapi saling berhubungan.

Kenapa Kualitas Data Menjadi Sangat Penting?

FHIR tidak akan memperbaiki data yang sejak awal berantakan.

Jika data pasien salah, kode pemeriksaan tidak jelas, satuan tidak konsisten, atau master pemeriksaan tidak memiliki pemetaan yang benar, maka integrasi tetap dapat menghasilkan masalah.

Karena itu, sebelum membicarakan API dan FHIR, laboratorium sebaiknya memastikan:

  • identitas pasien konsisten,
  • master pemeriksaan tertata,
  • kode pemeriksaan jelas,
  • satuan hasil konsisten,
  • data spesimen tercatat,
  • status hasil jelas,
  • waktu pemeriksaan tercatat,
  • validasi hasil terdokumentasi,
  • serta perubahan data dapat ditelusuri.

Di sinilah konsep audit trail juga menjadi penting.

Audit trail dapat membantu laboratorium menelusuri aktivitas dan perubahan data dalam sistem. Baca juga artikel Audit Trail Laboratorium: Mengapa Setiap Aktivitas Pengguna Perlu Dicatat?.

FHIR Tidak Hanya Tentang Teknologi

Walaupun FHIR merupakan standar teknis, implementasinya bukan hanya pekerjaan programmer.

Ada beberapa pihak yang terlibat:

Laboratorium

Memastikan proses dan data pemeriksaan benar.

Tim IT / Vendor LIS

Membangun mekanisme integrasi dan pemetaan data.

Tenaga kesehatan

Memastikan data yang dihasilkan dan divalidasi sesuai proses pelayanan.

Manajemen

Memastikan kesiapan sistem, proses, dan sumber daya.

Karena itu, keberhasilan interoperabilitas merupakan kombinasi antara kesiapan teknologi dan kualitas proses bisnis.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Laboratorium?

Jika laboratorium ingin mempersiapkan sistem untuk kebutuhan interoperabilitas, beberapa langkah berikut dapat dilakukan:

1. Evaluasi LIS yang Digunakan

Cari tahu apakah LIS sudah memiliki kemampuan API dan integrasi dengan sistem eksternal.

2. Rapikan Master Pemeriksaan

Pastikan nama, kode, satuan, kategori, dan parameter pemeriksaan tersusun dengan jelas.

3. Siapkan Mapping Terminologi

Untuk kebutuhan tertentu, pemeriksaan perlu dipetakan ke terminologi standar seperti LOINC.

4. Pastikan Data Pasien Konsisten

Identitas pasien menjadi bagian penting dalam proses pertukaran data kesehatan.

5. Siapkan Mekanisme Error Handling

Integrasi tidak selalu berhasil pada percobaan pertama.

Sistem perlu dapat mengetahui apakah data berhasil dikirim, ditolak, atau perlu diperbaiki.

6. Simpan Log Integrasi

Catat kapan data dikirim, data apa yang dikirim, status respons, dan informasi error yang terjadi.

7. Perhatikan Keamanan Data

Data kesehatan merupakan informasi yang perlu dikelola dengan memperhatikan keamanan dan kerahasiaan.

Baca juga Keamanan Data Pasien di Era Digital: Apa yang Wajib Diperhatikan Lab.

FHIR dan Masa Depan LIS

Perkembangan ekosistem kesehatan digital membuat LIS semakin memiliki peran strategis.

LIS tidak hanya menjadi tempat menyimpan hasil pemeriksaan.

LIS perlu mampu menjadi bagian dari rantai pertukaran informasi kesehatan yang lebih luas.

Artinya, kemampuan seperti:

  • integrasi alat,
  • API,
  • interoperabilitas,
  • standardisasi data,
  • terminologi,
  • audit trail,
  • dan keamanan

semakin relevan dalam pengembangan sistem laboratorium modern.

Hal ini juga sejalan dengan arah SATUSEHAT sebagai ekosistem pertukaran data kesehatan yang menghubungkan berbagai sistem informasi kesehatan.

Kesimpulan

HL7 FHIR bukan pengganti LIS.

FHIR adalah standar yang membantu sistem kesehatan bertukar informasi dengan struktur dan mekanisme yang lebih terstandar.

Bagi laboratorium, FHIR menjadi relevan karena LIS dapat menggunakan standar tersebut untuk berkomunikasi dengan sistem eksternal, termasuk dalam ekosistem SATUSEHAT sesuai use case yang berlaku.

Sementara itu, LOINC membantu memberikan standardisasi pada pemeriksaan laboratorium, sehingga data seperti nama dan kode pemeriksaan dapat dipahami secara lebih konsisten antar sistem.

Jadi, ketika membahas kesiapan LIS menghadapi era interoperabilitas, yang perlu dipersiapkan bukan hanya API.

Yang tidak kalah penting adalah:

data yang rapi + master pemeriksaan yang jelas + terminologi yang tepat + proses yang terdokumentasi + sistem yang siap terintegrasi.

Itulah fondasi agar LIS tidak hanya bekerja untuk laboratorium hari ini, tetapi juga siap mengikuti perkembangan ekosistem kesehatan digital Indonesia.

SisLab dan Interoperabilitas

SisLab dikembangkan sebagai Sistem Informasi Laboratorium berbasis cloud dengan perhatian pada kebutuhan integrasi dan perkembangan ekosistem digital kesehatan.

Karena kebutuhan setiap laboratorium dapat berbeda, kesiapan integrasi tetap perlu disesuaikan dengan proses bisnis, data, perangkat, dan kebutuhan sistem masing-masing.

Urus Lab Anda, Biar SisLab Urus Sistemnya.

Coba SisLab Sekarang →