Bayangkan seorang pasien melakukan pemeriksaan laboratorium di satu fasilitas kesehatan, kemudian harus mendapatkan pemeriksaan atau pelayanan lanjutan di fasilitas lain.

Idealnya, informasi yang dibutuhkan dapat tersedia secara digital dan dapat dipertukarkan antar sistem tanpa harus selalu mengandalkan dokumen fisik atau input ulang secara manual.

Di sinilah interoperabilitas data kesehatan menjadi penting.

Secara sederhana, interoperabilitas adalah kemampuan berbagai sistem informasi untuk bertukar data dan menggunakan data tersebut secara bermakna, meskipun sistem yang digunakan berasal dari platform atau penyedia yang berbeda.

Bagi laboratorium, interoperabilitas semakin relevan seiring berkembangnya digitalisasi layanan kesehatan dan kebutuhan pertukaran data antar fasilitas.

Kenapa Data Kesehatan Sering Terisolasi?

Setiap fasilitas kesehatan dapat menggunakan sistem informasi yang berbeda untuk mengelola data pasien.

Laboratorium memiliki LIS, rumah sakit dapat menggunakan HIS, klinik menggunakan sistem informasi klinik, dan berbagai layanan kesehatan lainnya juga dapat memiliki platform masing-masing.

Masalah muncul ketika sistem-sistem tersebut tidak dapat saling berkomunikasi.

Akibatnya, data dapat menjadi terisolasi di dalam masing-masing sistem. Ketika informasi dibutuhkan oleh sistem atau fasilitas lain, data mungkin harus dipindahkan secara manual, diinput ulang, atau dikirim dalam bentuk dokumen.

Bagi laboratorium yang masih dalam tahap memahami digitalisasi, mengenal apa itu Sistem Informasi Laboratorium (LIS) dan kenapa lab membutuhkannya menjadi langkah awal yang penting sebelum membahas interoperabilitas.

Kondisi sistem yang tidak saling terhubung bukan hanya membuat proses menjadi kurang efisien, tetapi juga dapat meningkatkan pekerjaan administratif dan risiko kesalahan saat melakukan input ulang.

Interoperabilitas Bukan Sekadar “Bisa Kirim Data”

Ada hal penting yang perlu dipahami.

Interoperabilitas bukan sekadar membuat satu sistem bisa mengirim file atau data ke sistem lain.

Sistem juga perlu memiliki format, struktur, dan pemahaman data yang sesuai, sehingga informasi yang diterima dapat diproses oleh sistem tujuan dengan benar.

Karena itu, interoperabilitas biasanya berkaitan dengan penggunaan standar tertentu untuk pertukaran data kesehatan.

Dua istilah yang sering muncul dalam pembahasan ini adalah HL7 dan FHIR.

HL7 merupakan keluarga standar yang digunakan untuk pertukaran informasi kesehatan. Sementara FHIR (Fast Healthcare Interoperability Resources) merupakan standar modern yang dirancang untuk memudahkan pertukaran data kesehatan melalui pendekatan yang lebih terstruktur dan berbasis teknologi web.

Bagi pengelola laboratorium, tidak harus menjadi ahli teknis HL7 atau FHIR untuk memahami konsepnya.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa sistem yang digunakan memiliki kemampuan dan arsitektur yang dapat mendukung kebutuhan integrasi.

Manfaat Interoperabilitas untuk Pasien

Salah satu manfaat terbesar interoperabilitas adalah mendukung kesinambungan informasi kesehatan pasien.

Misalnya, seorang pasien melakukan pemeriksaan laboratorium di sebuah laboratorium klinik dan kemudian mendapatkan pelayanan lanjutan di fasilitas kesehatan lain.

Jika sistem yang digunakan dapat bertukar data melalui mekanisme yang sesuai, informasi pemeriksaan yang relevan berpotensi dapat dimanfaatkan dalam proses pelayanan berikutnya tanpa selalu membutuhkan pemindahan data secara manual.

Hal ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada hasil pemeriksaan dalam bentuk kertas dan mengurangi kebutuhan untuk memasukkan data yang sama berulang kali.

Namun, pertukaran data kesehatan tetap harus memperhatikan hak akses, persetujuan atau dasar pemrosesan yang sesuai, keamanan, serta perlindungan data pribadi pasien.

Jadi, interoperabilitas bukan berarti semua data pasien otomatis dapat dilihat oleh siapa saja.

Untuk memahami sisi perlindungan data lebih jauh, baca juga artikel Keamanan Data Pasien di Laboratorium: Apa yang Wajib Diperhatikan?.

Manfaat Interoperabilitas untuk Laboratorium

Bagi laboratorium, interoperabilitas dapat memberikan manfaat dari sisi operasional maupun pengembangan sistem.

Beberapa di antaranya adalah:

1. Mengurangi Input Data Berulang

Data yang dapat dipertukarkan secara otomatis dapat mengurangi kebutuhan memasukkan informasi yang sama secara manual ke beberapa sistem.

2. Mempermudah Integrasi dengan Fasilitas Lain

Laboratorium yang memiliki kemampuan integrasi lebih siap ketika harus terhubung dengan rumah sakit, klinik, sistem rujukan, maupun platform kesehatan lainnya.

Konsep ini sebenarnya masih berkaitan dengan integrasi pada level yang lebih dekat dengan operasional laboratorium, misalnya integrasi alat laboratorium untuk mengurangi input manual hasil pemeriksaan.

Bedanya, integrasi alat biasanya menghubungkan perangkat atau analyzer dengan sistem laboratorium, sedangkan interoperabilitas memiliki cakupan yang lebih luas, yaitu pertukaran data antara berbagai sistem informasi.

3. Mendukung Alur Data yang Lebih Terstruktur

Data pemeriksaan dapat bergerak melalui alur digital yang lebih terorganisir, mulai dari permintaan pemeriksaan, identitas pasien, hasil pemeriksaan, hingga informasi lain yang memang diperlukan oleh sistem tujuan.

4. Lebih Siap Menghadapi Perkembangan Ekosistem Kesehatan Digital

Kebutuhan integrasi data kesehatan akan terus berkembang.

Laboratorium yang sejak awal mempertimbangkan kemampuan interoperabilitas pada sistemnya akan memiliki fondasi yang lebih baik untuk mengikuti kebutuhan tersebut.

Bagaimana dengan SATUSEHAT?

Pembahasan interoperabilitas di Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ekosistem digital kesehatan nasional.

Salah satu inisiatif yang mendorong pertukaran dan integrasi data kesehatan adalah SATUSEHAT.

Bagi fasilitas kesehatan, termasuk laboratorium, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sistem informasi tidak lagi hanya perlu mampu menyimpan data secara internal.

Kemampuan sistem untuk berkomunikasi dan bertukar data dengan sistem lain menjadi semakin penting.

Karena itu, ketika memilih atau mengembangkan LIS, laboratorium sebaiknya tidak hanya bertanya:

“Apakah sistem ini bisa mencatat hasil pemeriksaan?”

Tetapi juga:

“Apakah sistem ini siap diintegrasikan ketika kebutuhan pertukaran data muncul?”

Tantangan Interoperabilitas di Laboratorium

Mewujudkan interoperabilitas tidak selalu sederhana.

Beberapa tantangan yang dapat ditemui antara lain:

  • Sistem yang menggunakan format data berbeda
  • Struktur kode pemeriksaan yang tidak seragam
  • Sistem lama yang belum dirancang untuk integrasi
  • Perbedaan kebutuhan antar fasilitas
  • Keterbatasan API atau mekanisme pertukaran data
  • Persyaratan keamanan dan perlindungan data
  • Kebutuhan pemetaan (mapping) data antar sistem

Artinya, interoperabilitas bukan hanya persoalan teknologi.

Diperlukan juga standar data, pemetaan yang benar, dokumentasi, keamanan, serta koordinasi antara pihak-pihak yang terlibat.

Apakah Semua Laboratorium Harus Menggunakan HL7 atau FHIR?

Tidak selalu berarti setiap laboratorium harus langsung menerapkan seluruh standar tersebut secara kompleks.

Kebutuhan integrasi setiap laboratorium dapat berbeda.

Yang lebih penting adalah memahami arah perkembangannya dan memastikan bahwa sistem yang digunakan tidak dibangun dengan pendekatan yang membuat integrasi menjadi sangat sulit di kemudian hari.

Dengan kata lain, kesiapan interoperabilitas sebaiknya dipikirkan sejak awal, bukan baru ketika laboratorium sudah membutuhkan integrasi.

Kesimpulan

Interoperabilitas data kesehatan bukan lagi sekadar wacana teknologi.

Bagi laboratorium, kemampuan sistem untuk bertukar dan memahami data dengan sistem lain akan semakin penting seiring berkembangnya ekosistem kesehatan digital.

Interoperabilitas dapat membantu mengurangi input data berulang, mendukung pertukaran informasi, mempermudah integrasi antar fasilitas, dan membuat sistem laboratorium lebih siap menghadapi kebutuhan digital di masa depan.

Namun, interoperabilitas harus berjalan bersama dengan standar data, keamanan, pengelolaan hak akses, dan perlindungan data pasien.

Karena itu, ketika memilih atau membangun sistem laboratorium, kemampuan integrasi sebaiknya sudah menjadi bagian dari pertimbangan sejak awal.

Ingin sistem laboratorium yang siap berkembang mengikuti kebutuhan integrasi digital?

SisLab dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan integrasi sistem laboratorium dan perkembangan ekosistem kesehatan digital.

Urus lab Anda, biar SisLab urus sistemnya.

Coba SisLab Sekarang →