Saat mendengar istilah kesehatan kerja, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan pekerja pabrik dengan APD lengkap atau pekerja lapangan yang menghadapi bahan kimia, mesin, kebisingan, dan berbagai risiko fisik.

Padahal, pekerja kantoran juga menghadapi risiko kesehatan kerja tersendiri. Bentuk risikonya memang berbeda dan sering kali tidak terlihat secara langsung, sehingga mudah dianggap sepele.

Duduk berjam-jam, menatap layar komputer, posisi kerja yang kurang ergonomis, hingga tekanan target dan beban pekerjaan semuanya dapat menjadi bagian dari faktor yang perlu diperhatikan dalam kesehatan kerja.

1. Risiko Duduk Terlalu Lama

Pekerja kantoran dapat menghabiskan sebagian besar waktu kerjanya dalam posisi duduk. Jika dilakukan terus-menerus tanpa jeda dan tidak diimbangi aktivitas fisik yang cukup, kebiasaan ini dapat berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan.

Keluhan yang sering muncul antara lain:

  • Nyeri punggung dan pinggang
  • Kaku pada leher dan bahu
  • Ketegangan otot
  • Gangguan postur
  • Kurangnya aktivitas fisik

Karena keluhannya sering muncul secara perlahan, pekerja terkadang baru menyadarinya ketika sudah mengganggu kenyamanan atau aktivitas sehari-hari.

Apa yang bisa dilakukan?

Lakukan jeda secara berkala dari posisi duduk. Berdiri, berjalan sebentar, melakukan peregangan ringan, dan menjaga aktivitas fisik di luar jam kerja dapat membantu mengurangi kebiasaan duduk terus-menerus.

2. Ergonomi Meja dan Kursi Kerja

Meja dan kursi kerja bukan sekadar fasilitas kantor. Pengaturannya juga berhubungan dengan kenyamanan dan kesehatan pekerja.

Posisi layar yang terlalu rendah atau tinggi, kursi yang tidak sesuai, posisi keyboard dan mouse yang kurang tepat, serta postur duduk yang buruk dapat menyebabkan tekanan berulang pada bagian tubuh tertentu.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berhubungan dengan keluhan pada:

  • Leher
  • Bahu
  • Punggung
  • Pergelangan tangan
  • Tangan dan lengan

Apa yang bisa dilakukan?

Atur posisi meja, kursi, monitor, keyboard, dan mouse agar sesuai dengan kebutuhan pekerja. Perubahan kecil pada posisi kerja dapat membuat aktivitas di depan komputer menjadi lebih nyaman.

3. Kelelahan Mata Digital

Sebagian besar pekerjaan kantoran saat ini tidak dapat dipisahkan dari layar komputer, laptop, maupun perangkat digital lainnya.

Menatap layar dalam waktu lama dapat menyebabkan kelelahan mata, yang dapat ditandai dengan mata terasa kering atau lelah, pandangan buram sementara, hingga sakit kepala pada sebagian orang.

Masalah ini sering dianggap sebagai bagian biasa dari pekerjaan kantor. Padahal, keluhan yang terus berulang sebaiknya tidak diabaikan.

Apa yang bisa dilakukan?

Berikan jeda secara berkala dari layar, sesuaikan pencahayaan ruangan, atur posisi monitor, dan pastikan jarak pandang tetap nyaman.

Jika keluhan mata terus berulang atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan mata dapat menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan.

4. Tekanan Kerja dan Faktor Psikososial

Tidak semua risiko kesehatan kerja berbentuk fisik.

Pekerja kantoran juga dapat menghadapi bahaya psikososial, seperti beban kerja yang tinggi, target yang terus meningkat, tenggat waktu, konflik di lingkungan kerja, kurangnya waktu istirahat, maupun ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan untuk mengendalikannya.

Tekanan kerja yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kondisi pekerja dan pada akhirnya juga dapat berdampak pada konsentrasi, produktivitas, serta kualitas pekerjaan.

Karena itu, kesehatan kerja sebaiknya tidak hanya melihat kondisi fisik pekerja, tetapi juga memperhatikan lingkungan dan faktor psikososial di tempat kerja.

Apa yang bisa dilakukan?

Perusahaan dapat membangun lingkungan kerja yang lebih sehat melalui komunikasi yang baik, pembagian beban kerja yang wajar, waktu istirahat yang cukup, serta perhatian terhadap kondisi pekerja.

5. Aktivitas Fisik yang Kurang Juga Perlu Diperhatikan

Salah satu tantangan pekerja kantoran adalah rendahnya aktivitas fisik selama jam kerja.

Perjalanan dari rumah ke kantor, duduk di depan komputer, rapat, kemudian kembali duduk saat makan atau perjalanan pulang dapat membuat sebagian pekerja menjalani hari dengan aktivitas fisik yang sangat terbatas.

Karena itu, menjaga kesehatan pekerja kantoran tidak cukup hanya dengan menyediakan kursi dan meja yang nyaman.

Kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki, menggunakan tangga ketika memungkinkan, melakukan peregangan, dan menyempatkan aktivitas fisik di luar jam kerja dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.

6. MCU Tetap Relevan untuk Pekerja Kantoran

Karena sebagian risiko pekerjaan kantoran bersifat kumulatif dan tidak selalu langsung menimbulkan gejala, Medical Check-Up (MCU) tetap relevan bagi pekerja kantoran.

MCU bukan hanya untuk pekerja pabrik atau pekerja lapangan.

Jenis pemeriksaan dalam MCU dapat disesuaikan dengan kondisi pekerja, faktor risiko pekerjaan, usia, riwayat kesehatan, serta kebutuhan perusahaan dan tenaga medis.

Pemeriksaan dapat mencakup pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti laboratorium, mata, pendengaran, jantung, maupun pemeriksaan lainnya sesuai kebutuhan.

Bagi perusahaan, MCU juga dapat menjadi bagian dari program pemantauan kesehatan pekerja secara berkala.

Jika ingin memahami lebih jauh mengenai pemeriksaan yang umum dilakukan dalam MCU, baca juga artikel [Apa Saja yang Diperiksa Saat MCU? Ini Jenis Pemeriksaannya].

Untuk perusahaan yang menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan karyawan dalam jumlah besar, memahami [Alur MCU Karyawan: Dari Pendaftaran hingga Hasil Pemeriksaan] juga penting agar setiap tahapan dapat dikelola dengan lebih terstruktur.

7. Kesehatan Kerja Bukan Hanya Soal Mendeteksi Penyakit

Tujuan kesehatan kerja bukan hanya mencari apakah seorang pekerja memiliki penyakit atau tidak.

Lebih dari itu, kesehatan kerja merupakan bagian dari upaya menjaga agar pekerja dapat menjalankan pekerjaannya dalam kondisi yang sehat dan aman, sekaligus membantu perusahaan memahami faktor risiko yang perlu diperhatikan.

Karena itu, program kesehatan kerja sebaiknya dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika muncul keluhan.

Data hasil pemeriksaan kesehatan juga dapat membantu perusahaan dan penyedia layanan kesehatan melihat kondisi pekerja secara lebih terstruktur.

Di sinilah digitalisasi dapat memberikan manfaat. Pengelolaan data MCU secara digital dapat membantu proses pendataan peserta, pemeriksaan, hasil laboratorium, hingga pelaporan menjadi lebih terorganisir.

Kesimpulan

Kesehatan kerja bukan monopoli pekerja pabrik atau pekerja lapangan.

Pekerja kantoran juga memiliki berbagai risiko yang perlu diperhatikan, mulai dari terlalu lama duduk, posisi kerja yang kurang ergonomis, kelelahan mata, kurangnya aktivitas fisik, hingga faktor psikososial.

Karena sebagian dampaknya dapat muncul secara perlahan, perusahaan perlu membangun program kesehatan kerja yang konsisten dan sesuai dengan risiko pekerjaan.

MCU berkala dapat menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut, dengan jenis pemeriksaan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan faktor risiko pekerja.

Pastikan kesehatan seluruh karyawan terpantau, baik pekerja lapangan maupun pekerja kantoran.

SisLab membantu perusahaan dan penyedia layanan MCU mengelola data pemeriksaan kesehatan kerja secara digital, mulai dari pendataan peserta hingga pengelolaan hasil pemeriksaan dan pelaporan.

Urus kesehatan kerja Anda, biar SisLab urus sistemnya.

Coba SisLab Sekarang →