Setiap kali menjalani pemeriksaan laboratorium, jenis sampel yang diminta biasanya sudah disesuaikan dengan tujuan pemeriksaannya. Darah, urine, dan feses adalah tiga jenis spesimen yang paling umum digunakan, masing-masing punya kegunaan dan cara penanganan yang berbeda. Berikut penjelasan singkatnya.
1. Sampel Darah
Darah adalah jenis sampel paling serbaguna dalam pemeriksaan laboratorium. Dari satu kali pengambilan, darah bisa diperiksa untuk berbagai kebutuhan: kadar gula darah, profil lipid (kolesterol), fungsi hati dan ginjal, hitung sel darah lengkap, hingga penanda infeksi atau penyakit tertentu.
Pengambilan sampel darah biasanya dilakukan lewat vena (venipuncture), umumnya di lipatan siku. Beberapa pemeriksaan mengharuskan pasien berpuasa terlebih dahulu — seperti dibahas di artikel kami soal kenapa harus puasa sebelum cek darah — karena makanan bisa memengaruhi kadar zat tertentu dalam darah, misalnya gula dan trigliserida.
2. Sampel Urine
Urine digunakan untuk memeriksa fungsi ginjal dan saluran kemih, mendeteksi infeksi saluran kemih, memantau kondisi seperti diabetes, hingga skrining kehamilan dan penggunaan zat tertentu (NAPZA).
Berbeda dari darah, sampel urine bisa diambil sendiri oleh pasien (self-collection) mengikuti instruksi petugas — biasanya menggunakan metode midstream (urine tampung tengah) untuk mengurangi risiko kontaminasi dari luar. Waktu pengambilan juga berpengaruh; urine pagi hari (first morning urine) sering direkomendasikan karena lebih pekat dan memberikan hasil yang lebih representatif untuk pemeriksaan tertentu.
3. Sampel Feses
Feses digunakan untuk memeriksa gangguan pencernaan, mendeteksi infeksi parasit atau bakteri, hingga skrining darah samar (occult blood) yang bisa jadi indikasi awal masalah di saluran cerna, termasuk deteksi dini kanker kolorektal.
Sampel feses umumnya diambil sendiri oleh pasien menggunakan wadah khusus yang disediakan laboratorium, lalu diserahkan dalam rentang waktu tertentu setelah pengambilan agar kondisi sampel tetap representatif untuk diperiksa.
Kenapa Jenis Sampel Menentukan Jenis Pemeriksaan?
Setiap jenis sampel punya karakteristik biologis yang berbeda, sehingga tidak semua pemeriksaan bisa dilakukan pada semua jenis spesimen. Itulah kenapa dokter atau petugas lab akan menentukan jenis sampel yang diperlukan berdasarkan keluhan atau tujuan pemeriksaan — bukan sekadar pilihan acak.
Penanganan sampel yang tepat sejak awal juga sangat menentukan validitas hasil. Kesalahan seperti sampel urine yang terkontaminasi, sampel feses yang terlalu lama disimpan sebelum diperiksa, atau sampel darah yang hemolisis, semuanya bisa membuat hasil tidak akurat dan berujung pada pengambilan sampel ulang.
Kesimpulan
Darah, urine, dan feses masing-masing punya peran spesifik dalam mendukung diagnosis medis. Memahami perbedaan kegunaan dan cara penanganannya membantu pasien lebih siap saat menjalani pemeriksaan, sekaligus memahami kenapa instruksi dari petugas lab — seperti puasa atau cara pengambilan sampel — perlu diikuti dengan benar.
SisLab membantu laboratorium mengelola jenis sampel dan alur pemeriksaan dengan lebih terstruktur. Dari pencatatan jenis sampel, pelabelan, sampai pelacakan status pemeriksaan per pasien — semua tercatat rapi dalam satu sistem cloud tanpa perlu server sendiri.
