Human error merupakan salah satu risiko yang tidak sepenuhnya dapat dihilangkan dalam pekerjaan manusia, termasuk di laboratorium klinik. Kesalahan dapat terjadi karena berbagai faktor, mulai dari beban kerja, proses manual, hingga kurangnya informasi yang tersedia saat pekerjaan dilakukan.

Namun, bukan berarti risiko tersebut tidak dapat dikurangi. Teknologi dapat membantu meminimalkan peluang terjadinya human error, terutama pada proses yang berulang dan membutuhkan ketelitian tinggi.

Berikut beberapa contoh bagaimana teknologi dapat membantu mengurangi kesalahan di laboratorium.

1. Kesalahan Identifikasi Sampel

Kesalahan identifikasi pasien atau sampel dapat menjadi masalah serius dalam operasional laboratorium.

Penggunaan barcode dan sistem informasi laboratorium (LIS) membantu memastikan sampel yang diproses sesuai dengan identitas pasien. Dengan proses identifikasi yang terdigitalisasi, risiko sampel tertukar akibat pencatatan atau input manual dapat diminimalkan.

2. Kesalahan Input Data Hasil Pemeriksaan

Memasukkan hasil pemeriksaan secara manual membutuhkan ketelitian tinggi. Kesalahan satu angka saja dapat menyebabkan informasi hasil pemeriksaan menjadi tidak sesuai.

Integrasi antara alat laboratorium dengan LIS dapat membantu mengurangi kebutuhan input ulang secara manual. Hasil dari alat dapat dikirim ke sistem sehingga proses pencatatan menjadi lebih cepat sekaligus mengurangi risiko kesalahan pengetikan.

3. Kesalahan Nilai Rujukan

Nilai rujukan dapat berbeda tergantung jenis pemeriksaan, metode, kelompok pasien, dan konfigurasi laboratorium.

Dengan sistem yang memiliki nilai rujukan yang telah dikonfigurasi sesuai kebutuhan laboratorium, proses pemeriksaan dan interpretasi awal dapat dilakukan dengan lebih konsisten dibandingkan pencatatan atau perhitungan manual.

Tetap diperlukan proses validasi oleh tenaga laboratorium sesuai prosedur yang berlaku.

4. Kelalaian Akibat Beban Kerja

Beban kerja yang tinggi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan, terutama pada pekerjaan administratif dan tugas yang dilakukan berulang kali.

Otomatisasi dapat membantu menangani berbagai proses seperti pencatatan data, pengiriman hasil, pencetakan label, hingga pelaporan.

Dengan demikian, tenaga laboratorium dapat lebih fokus pada proses teknis, validasi, dan pengendalian kualitas pemeriksaan.

5. Kesalahan Tidak Hanya Berasal dari Manusia

Human error memang menjadi salah satu faktor risiko, tetapi tidak semua masalah operasional laboratorium disebabkan oleh manusia.

Gangguan alat, koneksi, konfigurasi sistem, kesalahan data, atau prosedur yang kurang tepat juga dapat memengaruhi proses kerja.

Karena itu, teknologi sebaiknya digunakan sebagai bagian dari sistem kerja yang terintegrasi, bukan sebagai satu-satunya solusi.

Batasan Teknologi

Meskipun teknologi dapat membantu mengurangi berbagai risiko, teknologi tidak dapat menghilangkan human error sepenuhnya.

Operator tetap harus memahami prosedur, melakukan pemeriksaan dengan teliti, dan memastikan hasil yang dihasilkan sistem sesuai dengan kondisi dan prosedur laboratorium.

Teknologi yang baik bukan menggantikan kompetensi tenaga laboratorium, tetapi membantu mengurangi celah kesalahan dalam proses kerja.

Kesimpulan

Human error merupakan risiko yang selalu mungkin terjadi dalam pekerjaan manusia. Namun, dengan proses yang terdigitalisasi dan otomatisasi yang tepat, laboratorium dapat mengurangi berbagai kesalahan yang muncul dari proses manual dan pekerjaan berulang.

Teknologi bukan pengganti kompetensi tenaga laboratorium, tetapi alat bantu untuk menciptakan proses kerja yang lebih terstruktur, konsisten, dan efisien.

Ingin mengurangi risiko human error di laboratorium Anda?

SisLab dirancang untuk membantu meminimalkan kesalahan manusia melalui digitalisasi alur kerja laboratorium, mulai dari pengelolaan data, identifikasi sampel, integrasi alat, hingga proses pelaporan.

Coba SisLab Sekarang →