Saat memilih sistem informasi laboratorium, salah satu keputusan penting adalah menentukan bagaimana sistem tersebut dijalankan: menggunakan cloud atau on-premise, yaitu server yang ditempatkan dan dikelola sendiri di lokasi laboratorium.
Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada satu pilihan yang cocok untuk semua laboratorium karena keputusan sebaiknya mempertimbangkan skala, anggaran, kebutuhan akses, kemampuan IT, keamanan data, hingga rencana pengembangan di masa depan.
Apa Itu Sistem Cloud dan On-Premise?
Secara sederhana, cloud berarti aplikasi dan data dijalankan pada infrastruktur server yang dikelola melalui layanan cloud. Laboratorium mengakses sistem melalui jaringan internet tanpa harus menyediakan dan mengelola server aplikasi sendiri di lokasi.
Sementara on-premise berarti sistem dan server berada di lingkungan laboratorium atau infrastruktur yang secara langsung dikendalikan oleh organisasi.
Perbedaannya bukan hanya soal lokasi server, tetapi juga menyangkut siapa yang bertanggung jawab terhadap infrastruktur, maintenance, backup, keamanan, dan pengembangan kapasitas.
1. Biaya Awal
Dari sisi investasi awal, cloud umumnya lebih ringan karena laboratorium tidak perlu membeli server fisik sendiri.
Biaya biasanya menggunakan model berlangganan sesuai layanan yang digunakan.
Sementara itu, on-premise membutuhkan investasi perangkat keras seperti server, storage, perangkat jaringan, UPS, serta kebutuhan pendukung lainnya.
Namun, biaya tidak berhenti pada pembelian perangkat.
Laboratorium juga perlu memperhitungkan biaya maintenance, penggantian hardware, backup, listrik, serta tenaga IT yang dibutuhkan untuk mengelola infrastruktur tersebut.
Jadi, perbandingan sebaiknya tidak hanya melihat harga server, tetapi juga total biaya operasional dalam jangka panjang.
2. Perawatan Sistem
Pada sistem cloud, sebagian pekerjaan infrastruktur biasanya ditangani oleh penyedia layanan.
Tergantung model layanannya, pekerjaan tersebut dapat mencakup pemeliharaan server, update sistem, monitoring, backup, dan pengelolaan infrastruktur.
Pada on-premise, tanggung jawab tersebut lebih banyak berada di pihak laboratorium atau tim IT yang mengelolanya.
Ketika terjadi masalah pada server, storage, sistem operasi, atau jaringan internal, laboratorium perlu memiliki sumber daya yang mampu melakukan pemeriksaan dan perbaikan.
Karena itu, kemampuan IT internal menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan pilihan.
3. Akses dari Mana Saja
Salah satu keunggulan cloud adalah fleksibilitas akses.
Selama tersedia koneksi internet dan akses yang diizinkan oleh sistem, pengguna dapat mengakses aplikasi dari lokasi yang berbeda.
Hal ini dapat bermanfaat bagi laboratorium yang memiliki:
- Banyak cabang
- Tim manajemen yang mobile
- Kantor pusat dan cabang yang membutuhkan akses data
- Kegiatan MCU di lokasi perusahaan
- Tim yang membutuhkan monitoring dari lokasi berbeda
Pada sistem on-premise, akses dari luar lokasi tetap dapat dibuat, tetapi biasanya membutuhkan konfigurasi jaringan dan keamanan tambahan.
4. Ketergantungan pada Internet
Ini merupakan salah satu hal yang perlu dipertimbangkan ketika menggunakan cloud.
Karena aplikasi diakses melalui internet, gangguan koneksi dapat menghambat akses ke sistem.
Artinya, laboratorium yang menggunakan cloud perlu memiliki koneksi internet yang memadai serta, untuk kebutuhan operasional tertentu, dapat mempertimbangkan koneksi cadangan.
Sementara itu, sistem on-premise dapat tetap diakses melalui jaringan lokal meskipun koneksi internet ke luar sedang bermasalah.
Namun, on-premise juga bukan berarti bebas dari gangguan jaringan. Jika jaringan lokal, server, storage, atau perangkat pendukung mengalami masalah, sistem tetap dapat terganggu.
Jadi, baik cloud maupun on-premise tetap membutuhkan perencanaan availability dan backup yang baik.
5. Keamanan dan Backup Data
Keamanan data sering menjadi pertimbangan utama ketika laboratorium memilih cloud atau on-premise.
Cloud bukan berarti otomatis lebih aman atau lebih tidak aman daripada on-premise.
Keamanan sangat bergantung pada bagaimana infrastruktur, aplikasi, akses pengguna, backup, monitoring, dan prosedur keamanan dikelola.
Pada cloud, penyedia layanan biasanya menyediakan berbagai lapisan infrastruktur dan keamanan, tetapi laboratorium tetap bertanggung jawab terhadap hal-hal seperti akun pengguna, password, hak akses, dan penggunaan sistem secara benar.
Pada on-premise, laboratorium memiliki kontrol langsung terhadap server dan infrastrukturnya, tetapi juga harus memastikan sendiri bahwa sistem tersebut mendapatkan patch, backup, monitoring, dan perlindungan yang memadai.
Yang tidak kalah penting adalah backup.
Data laboratorium merupakan aset penting sehingga strategi backup dan pemulihan data perlu dipikirkan sejak awal, terlepas dari apakah sistem menggunakan cloud maupun on-premise.
6. Kontrol terhadap Infrastruktur
On-premise memberikan organisasi kontrol yang lebih langsung terhadap infrastruktur fisik.
Laboratorium dapat menentukan spesifikasi server, konfigurasi jaringan, storage, dan berbagai komponen lainnya sesuai kebutuhan.
Cloud memberikan pendekatan yang berbeda.
Laboratorium tidak perlu mengurus perangkat keras secara langsung, tetapi bergantung pada infrastruktur dan layanan yang disediakan oleh penyedia cloud.
Karena itu, sebelum memilih layanan cloud, penting untuk memahami bagaimana data dikelola, bagaimana backup dilakukan, bagaimana akses diberikan, serta apa yang terjadi jika suatu saat laboratorium ingin memindahkan data atau berpindah layanan.
7. Skalabilitas
Kebutuhan laboratorium dapat berubah seiring pertumbuhan jumlah pasien, pemeriksaan, cabang, atau integrasi dengan perangkat laboratorium.
Pada cloud, penambahan kapasitas umumnya lebih fleksibel karena sumber daya dapat disesuaikan dengan kebutuhan layanan.
Sementara pada on-premise, peningkatan kapasitas dapat membutuhkan pembelian atau upgrade perangkat keras.
Untuk laboratorium yang sedang berkembang dan belum ingin melakukan investasi server besar di awal, fleksibilitas cloud dapat menjadi salah satu pertimbangan menarik.
8. Kebutuhan Tim IT
Perbedaan lainnya adalah kebutuhan sumber daya manusia.
On-premise membutuhkan kemampuan untuk menangani berbagai komponen infrastruktur, mulai dari server, sistem operasi, jaringan, storage, backup, hingga troubleshooting.
Tidak semua laboratorium memiliki tim IT khusus untuk menangani pekerjaan tersebut.
Pada cloud, sebagian tanggung jawab infrastruktur dapat dialihkan kepada penyedia layanan sehingga laboratorium dapat lebih fokus pada operasional utama.
Namun, cloud tetap membutuhkan pengelolaan dari sisi pengguna, terutama untuk administrasi akun, hak akses, konfigurasi aplikasi, dan prosedur operasional.
9. Bagaimana dengan Laboratorium yang Memiliki Banyak Cabang?
Untuk laboratorium dengan beberapa cabang, pilihan infrastruktur menjadi semakin penting.
Dengan sistem cloud, seluruh cabang dapat menggunakan sistem yang sama dan mengakses data melalui infrastruktur terpusat sesuai hak akses yang diberikan.
Hal ini dapat mempermudah pengelolaan data dan monitoring operasional antar-cabang.
Pada model on-premise, kebutuhan sinkronisasi atau akses antar-lokasi perlu dirancang dengan infrastruktur jaringan yang sesuai.
Bukan berarti on-premise tidak bisa digunakan untuk banyak cabang, tetapi desain infrastrukturnya dapat menjadi lebih kompleks.
10. Apakah Harus Memilih Salah Satu?
Tidak selalu.
Dalam beberapa kondisi, organisasi dapat menggunakan pendekatan hybrid, yaitu mengombinasikan sistem cloud dengan infrastruktur lokal sesuai kebutuhan.
Misalnya, aplikasi utama menggunakan cloud, sementara perangkat atau sistem tertentu tetap berada di lingkungan lokal karena kebutuhan teknis atau integrasi tertentu.
Pendekatan seperti ini dapat menjadi pilihan ketika laboratorium memiliki kebutuhan khusus yang tidak sepenuhnya dapat dipenuhi oleh satu model infrastruktur.
Namun, semakin kompleks infrastrukturnya, semakin penting pula perencanaan dan pengelolaannya.
Jadi, Mana yang Cocok untuk Laboratorium?
Pilihan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Cloud dapat menjadi pilihan menarik jika laboratorium:
- Ingin mengurangi investasi server di awal
- Tidak memiliki tim IT khusus
- Membutuhkan akses dari beberapa lokasi
- Memiliki cabang atau berencana membuka cabang
- Ingin kapasitas yang lebih mudah disesuaikan
- Ingin mengurangi pekerjaan maintenance infrastruktur
On-premise dapat menjadi pilihan jika laboratorium:
- Memiliki tim IT yang memadai
- Membutuhkan kontrol langsung terhadap infrastruktur
- Memiliki kebutuhan khusus terhadap jaringan atau server lokal
- Memiliki kebijakan internal yang mengharuskan infrastruktur tertentu berada di lingkungan sendiri
Yang paling penting bukan memilih teknologi yang sedang populer, tetapi memilih infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan operasional dan kemampuan organisasi.
Bagaimana dengan SisLab?
SisLab menggunakan pendekatan cloud-based LIS untuk membantu laboratorium menjalankan sistem informasi tanpa harus menyediakan dan mengelola server aplikasi sendiri di lokasi.
Dengan model ini, laboratorium dapat menggunakan sistem melalui koneksi internet tanpa harus memikirkan pengadaan hardware server, maintenance infrastruktur server, maupun upgrade perangkat keras secara mandiri.
Pendekatan cloud juga mendukung kebutuhan laboratorium yang memiliki beberapa lokasi atau membutuhkan akses sistem dari tempat yang berbeda.
Tentu saja, kebutuhan setiap laboratorium berbeda. Karena itu, pemilihan sistem tetap perlu mempertimbangkan workflow, jumlah pengguna, kebutuhan integrasi alat, koneksi internet, keamanan data, serta kebutuhan operasional lainnya.
Kesimpulan
Cloud dan on-premise sama-sama memiliki tempatnya masing-masing dalam pengelolaan sistem laboratorium.
Cloud menawarkan kemudahan pengelolaan infrastruktur, fleksibilitas akses, serta skalabilitas tanpa harus melakukan investasi server fisik yang besar di awal.
Sementara on-premise memberikan kontrol yang lebih langsung terhadap infrastruktur dan dapat sesuai untuk organisasi yang memiliki kebutuhan khusus serta sumber daya IT yang memadai.
Tidak ada jawaban yang mutlak paling baik.
Laboratorium perlu melihat kebutuhan nyata: berapa besar operasionalnya, bagaimana kebutuhan aksesnya, apakah memiliki tim IT, bagaimana strategi backup-nya, seberapa banyak cabangnya, dan bagaimana rencana pertumbuhannya.
Bagi laboratorium yang ingin fokus pada operasional tanpa harus repot mengelola server sendiri, cloud-based LIS seperti SisLab dapat menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu laboratorium bekerja lebih sederhana—bukan justru menambah pekerjaan baru.
Ingin sistem laboratorium yang fleksibel dan mudah diakses? SisLab hadir sebagai solusi berbasis cloud yang bisa diakses kapan saja tanpa repot urus server sendiri. Coba SisLab Sekarang →
